Kisah Nyata Pasien Yang Terpapar Virus Covid-19 Hingga Sembuh Bersama Sehatq

Admin ingin berbagi artikel tentang kisah nyata pasien Covid-19, yang notabene adalah sepupu saya sendiri. Anda juga bisa membaca beragam Artikel Kesehatan  di situs SehatQ , merupakan situs kesehatan terpercaya, terupdate dan terbaik. Berikut penuturan langsung oleh sepupu Saya :

“Saya ingin sharing pengalaman bagaimana menjadi pasien positif COVID-19. selama >3 minggu sejak pertama timbul gejala.

Awal kali timbul gejala saya rasakan sekitar senin malam tanggal 24 Agustus 2020, pulang kerja dengan demam tinggi. Ketika sampai rumah saya temp dengan thermometer suhu tubuh saya 39°C langsung. Semalaman merasakan demam (panas dingin) dan sekujur badan terasa sakit.

Berikut gejala sampai dengan 7 hari pertama :

– Demam tinggi 39 sd 40 °C;

– Mual & Muntah bercampur darah (mungkin yg diserang salah satunya lambung (GERD); kebetulan Saya ada riwayat tukak lambung pd 2015.

– Persendian terasa nyeri semua;

– Radang Tenggorokan;

– Indra Pengecap dan Pembau mati rasa selama kurang lebih 10 hari;

– Trombosit turun terus tiap uji lab darah (awal kali didiagnosa DB Fever);

– Saturasi Oksigen diangka 95%, manusia sehat rata-rata diangka 98% s.d. 100%;

– Mulai Batuk dan Sesak Nafas di hari ke – 7, badan mudah lelah, jalan 10 sd 15 meter ngos-ngosan.

– Diare

– Hasil Foto Thorax menunjukkan Foto Paru-paru berkabut dan terdapat flek-flek hitam, Infeksi Pneumonia.

Kontrol rawat jalan ke-3 (sebelum swab), sebelumnya pada kontrol kedua diminta untuk opname, tapi saya tolak dengan berbagai alasan. Masih di tenda screening depan RS, para suster cantik dan baik hati memeriksa saturasi oksigen dan tensi meter, tensi saya normal 120/80, tapi saturasi oksigen saya diangka 95%, dijelaskan oleh dokter jaga bahwa 95% adalah batas bawah seseorang harus dibantu oksigen dalam pernafasannya, jika tidak, dikuatirkan si pasien mengalami Happy Hipoxemia (semoga saya tidak salah menuliskan istilahnya), artinya kurang lebih seseorang tidak menyadari kondisi badannya, tiba-tiba saturasi oksigen turun drop s.d. diangka <70% pada kondisi ini orang tersebut langsung kolaps, bisa gagal nafas dan menyerang otak. Na’udzubillah. Langsung saja saya matur ke dokter jaga, “Iya Bu, saya opname saja”. “OK Pak, nanti Bapak masuk kami antar melalui IGD, ga boleh dijaga dan ga boleh dijenguk” kata dokter jaga. Dan nyali saya sedikit menciut, pasrah saja atas apa yang terjadi nanti, saya cuma yakin akan ditangani oleh orang-orang yang tepat.

Sekitar Maghrib saya masuk IGD RS, dilakukan rekam jantung, pasang slang oksigen, dan infus. Sambil menunggu ruangan isolasi calon pasien Covid siap, saya rebahan dan melakukan komunikasi via WA dengan istri untuk mempersiapkan bekal selama saya dirawat dan dikarantina, Istri pulang untuk menyiapkan bekal tersebut, dan kembali saat HP saya sudah mati (lowbat). Di dalam ruangan sempit dan tertutup itu Alhamdulillah saya bisa beristirahat tertidur, hingga sekitar pukul 23:00 salah seorang suster membuka pintu, dan menginformasikan bahwa saya sudah siap dipindahkan ke ruang isolasi. “Bapak, mohon maaf ya Pak, sesuai prosedur selama pemindahan, Bapak diharuskan ditutup dengan keranda” kata suster. Saya, “Waduh, akhirnya saya merasakan apa yang dirasakan oleh Pasien yang saya lihat persis sehari sebelum saya disini, Iya Sus” Jawab saya pasrah.

Saya dipindahkan ke ruang isolasi dalam keadaan ditutup keranda, sedikit sharing yaa.. Dalam kondisi ini pikiran saya kemana-mana, orang hidup kok ditutup keranda begini, terasa sesak nafas, sempit, dan sangat tidak nyaman (Ayo yang masih sehat, berusahalah terhindar dari penyakit ini dengan mematuhi protokol yang sudah ditetapkan). Saya melihat istri di lobby dekat lift, Ia melambaikan tangan ke arah saya dengan senyuman yang menyiratkan, “Ayah PASTI sembuh dan kembali ke rumah” saya senang sekali melihat senyuman itu. Memberi semangat dan angin segar di tengah pengap dan ketakutan.

OK, masuklah saya di ruang isolasi yang cukup luas, yang biasa digunakan 2 pasien (saya hitung ada 2 instalasi oksigen) tapi saya gunakan sendirian. Alhamdulillah di dalam ruangan itu walaupun malam saya bisa melihat keluar kaca jendela, saya melihat Jalan Raya Waru dan Rel Kereta Api untuk mengusir kejenuhan. Malam itu, saya istirahat setelah menelan beberapa butir pil dan kaplet.

Keesokan harinya, pagi sekali sekitar pukul 05:00 Suster sudah datang untuk cek kondisi, mengukur temperatur, tensi darah, saturasi oksigen, mengambil 3 ampul darah untuk keperluan diagnosa, dan menginjeksikan ke dalam slang infus antibiotik, obat lambung, dan vitamin. Kegiatan ini kecuali ambil sampel Darah dan injeksi obat yang cuman pagi hari dilakukan rutin minimal 3 kali sehari. Sampel darah diambil kadang tiap hari, terkadang 2 hari sekali, pagi dan sore. Sampai bingung bagian siku dalam mana yang akan dilubangi. (Pesan moral : Jangan kena Covid jika tidak ingin mengalami apa yang saya alami).

Pukul 07:00 setelah sarapan dan minum obat, seorang tenaga lab masuk dengan peralatan rontgennya, saya di rontgen kembali untuk melihat perkembangan paru-paru saya. Setelah selesai sekitar pukul 07.30 tenaga lab kembali masuk untuk mengambil sampel dahak melalui hidung & tenggorokan (Swab), sumpah rasanya ga nyaman banget, apalagi saat pengambilan sampel di tenggorokan, sampai mau muntah rasanya (Lagi-lagi tetap patuhi protokol kesehatan yaa, jika tidak ingin merasakan ga nyamannya tes swab).

Esoknya dilakukan swab ke 2, sebagai penguat hasil swab pertama, sambil dilakukan pengambilan sampel dahak, sy cuman mbatin, yang kemarin saja traumanya belum ilang, eh sudah datang lagi #tepokjidat.

4 hari saya jalani pengobatan di ruang isolasi, sampai pada ba’dha magrib seorang dokter jaga masuk memeriksa kondisi saya, dan menginformasikan bahwa swab saya positif COVID-19, saya diminta tetap berpikir positif, dan pasti akan sembuh. Saya juga akan dipindahkan ke ruangan lain, yang disediakan khusus untuk pasien yang telah positif, slang oksigen saya tidak boleh dilepas sama sekali, untuk menghindari penurunan saturasi oksigen, dan mengakibatkan harus diganti dengan masker tertutup dan itu membuat tidak nyaman, atau yang paling menjadi momok adalah pemasangan Ventilator. Saya paham banget bagaimana tidak nyamannya dipasang ventilator (semoga ga terjadi pada diri saya dan kalian semua). Dulu pasca dilahirkan, Anak saya yang sulung, usia 2 hari dipasang Ventilator selama 10 hari di NICCU, tiap saat alat itu berbunyi keras sampai terdengar di lorong ruang NICCU, slang dipasang langsung ditembuskan ke paru-paru untuk memompakan oksigen. Naudzubillah, semoga ga terjadi pada diri dan keluarga kita.

Setelah adzan Isya’ saya dipindahkan ke ruang lain, kondisinya sama harus masuk keranda lagi. Tapi kali ini jaraknya lebih dekat, selantai. Di ruangan itu, sekitar 3 x 4 meter (bisa disebut semi ICU), relatif sempit, dingin, dan tertutup tirai semua, tak ada kaca jendela yang menghadap ke arah luar. Berada di dalam ruangan ini semalaman, ada perasaan takut, cemas, khawatir berlebih yang membuat gejala peningkatan asam lambung saya kembali aktif, setelah sebelumnya menurun. Ditambah lagi, sorenya saya mendengar kabar bahwa Om Saya, yang saya duga tertular bareng saya dan kakak saya. Sore itu masuk ICU di salah satu RS di Surabaya, dan kondisi Ibu yang drop GERD-nya kambuh, infeksi saluran kencingnya juga, setelah dengar kabar saya opname, kakak sakit dgn gejala yang sama dengan saya, dan Om positif covid. Kompleks. Dan kebetulan dari saya usia remaja, saya mempunyai masalah Panic Syndrome Clausetrophobia, jika berada di ruangan sempit, saya akan langsung panik, khawatir, cemas, dan harus segera keluar dr ruangan tersebut.

Malam itu saya tertidur sekitar pukul 22:00an, terbangun pukul 01:30 dan tidak terlelap lagi sampai dengan pagi. Saya berusaha memanage hati dan pikiran agar tidak drop, agar sll semangat untuk kembali sehat, saya tayamum sholat tahajud, nangis sama Allah. Saya ingin menerima semua ini Yaa Rabb sebagai bagian dari ujian-Mu. Saya pasrahkan semuanya pada-Mu, tolonglah Yaa Rabb lapangkan hati ini untuk menerimanya, Sabarkan aku, dan berilah keikhlasan dalam hatiku. Itu saja do’aku dini hari itu.

Pagi harinya, masih memanage kecemasan dan kekhawatiran. Pukul 05:30 suster masuk ruangan untuk ganti infus, cek kondisi, dan membawa menu sarapan. Saya memberanikan diri ngomong ke suster, “Sus, saya boleh minta dipindahkan dari ruangan ini ga? Maaf ya Sus, saya sangat ga nyaman di sini, saya punya panic syndrome terhadap ruangan sempit dan tertutup, saya jadi cemas dan ada perasaan khawatir, serta ingin keluar dari sini”.  Sambung aku , tolong carikan aku  ruangan yg relatif lbh besar, berisi dua orang gpp menggunakan syarat tanda-tanda yg ga terlalu tidak sinkron supaya tidak saling merugikan. Klo ada kaca jendela keluar malah lebih bagus” Rewel sekali ya saya jadi Pasien, tapi ini penting saya sampaikan sebagai titik balik saya untuk cepat pulih.

Akhirnya badha dhuhur Suster kembali datang dan memindahkan saya ke ruang seberang, kali ini tidak ditutup keranda. Ruangan yg luas untuk 2 orang, kaca jendela besar menghadap ke barat (arah rumah saya, terlihat masjid dekat rumah) dan yang lebih baik lagi, ada teman ngobrol dan saling menyemangati sesama pasien Covid). Di ruangan ini saya punya teman pasien positif covid lainnya, seorang Pemuda masih 28 tahun, belum menikah, bekerja dan berdomisili di Pasuruan, tetapi keluarganya tinggal di Ngasem – Kediri. Saya lihat Pemuda ini begitu mandiri, Ia datang persis 2 jam setelah saya pindah ke ruangan tersebut. Begitu datang dia menata semua barangnya sendiri, persiapannya terlihat matang dari saya. Dia bawa juke listrik untuk masak air dicampur minyak kayu putih, bawa oloran kabel untuk memudahkan keperluan listrik. Saya? Saya ga bawa apa-apa sama sekali. Saya langsung hubungi istri untuk mengirim benda-benda tersebut, dan sorenya saya bisa menikmati air hangat plus minyak kayu putih, yang banyak disarankan banyak teman yg sudah sembuh dari Covid, bisa mempercepat penyembuhan.

Hampir seharian itu saya merasa lebih baik, sampai keesokan sorenya, saya dengar kabar dari adik, bahwa Om yang positif covid dan kemungkinan kenanya bareng saya, meninggal dunia sore itu karena gagal nafas di ICU, semoga Allah mentakdirkannya dalam khusnul khotimah, mengampuni segala dosa dan salahnya, menerangkan kuburnya, dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya, Aamiin.

Semua saudara video call saya untuk terus menyemangati dan mendo’akan saya, khawatir saya drop mendengar kejadian ini. Saya? Saya cmn berusaha untuk tidak menangis dan larut dalam kesedihan, semuanya saya kembalikan kepada Allah, bahwa ini adalah yg terbaik saat ini, dengan tetap menghadiahkan bacaan Yasin dan Tahlil untuk Beliau. Walaupun tidak dipungkiri aktivitas GERD saya kembali naik.

Dalam sharing ini yang terpenting untuk bisa cepat pulih adalah hal-hal sebagai berikut:

– Menerima kondisi ini dengan lapang dada dan berusaha bersabar atas ujian yang menimpa.

– Memanage hati dan pikiran untuk selalu berpikir positif, selalu berusaha happy (ini penting untuk meningkatkan imun, karena virus ini menyerang sistem imun, dan gejalanya berbeda untuk tiap pasien, tergantung comorbid yang menyertainya misal : hipertensi, diabetes, jantung, GERD, Asma, dll).

– Menanamkan mind set bahwa penyakit ini bukan aib yang harus ditutupi, tips dari saya, saya mengabarkan penyakit saya ini ke keluarga besar dan teman-teman dekat mll WA, saya meminta do’a dan support kepada mereka. Dan ini berhasil, tiap saat keluarga dan teman-teman mendo’akan saya, chat dan video call saya u mensupport, ngajak bercanda, atau sekedar killing time aja. Tp itu sangat-sangat berarti buat saya kembali pulih. Untuk istri, teman-teman dan kluargaku yang baca sharing ini, kalian terbaik!

– Lain-lain mematuhi arahan dokter, makan yang banyak, istirahat cukup, berusaha untuk selalu happy, konsumsi obat rutin dan ga telat, ga banyak bergerak (kemarin aktivitas urinal saja pake botol urinal di samping ranjang, terima kasih suster-suster yang sudah merawat saya dengan sangat baik dan sabar).

– Saya meminum cairan Probiotik rutin kiriman dari teman, setelah diberikan video berita di TV Lokal Jawa Timur tentang kesaksian negatif swab dalam 7 hari, juga propolis A.

– Rutin melaburi dada, punggung, hidung, bagian dalam hidung dengan cotton Bud yang dibasahi minyak kayu putih dan saya minum minyak kayu putih itu dengan air hangat.

– Minum air putih yang banyak, agar darah tidak mengental, jika darah mengental oksigen akan sulit diangkut ke seluruh tubuh.

– Selalu berdo’a memohon kesembuhan.

Itu ikhtiar-ikhtiar yang saya lakukan sepanjang dirawat di RS selama 9 hari, dan saya lanjutkan kebiasaan tersebut saat isolasi mandiri di rumah.

Hari ke-7 di RS, infus dilepas dan tekanan oksigen dikurangi 1/2 nya, hari ke-8 pagi suster melakukan tes, 30 menit sebelum ukur saturasi oksigen, slang oksigen dilepas. Dan dilakukan pengukuran ternyata saturasi oksigen saya bagus, diangka 98% dan menyampaikan kita coba seharian ini lepas slang oksigen ya Pak. Alhamdulillah (saya membatin) .

Hari ke-9 di RS, dokter Sp. Penyakit Dalam kontrol ke ruangan, dan menanyakan ke saya, Bapak ada ruangan untuk isolasi di rumah? Saya langsung jawab Ada Bu Dokter. Nanti saya bs isolasi di kamar atas dan menggunakan kamar mandi terpisah dengan istri, anak-anak aman Bu, sejak saya sakit pertama sudah saya pindahkan ke tempat kakek neneknya. Kemudian Bu Dokter menyampaikan Bapak boleh pulang dengan pertimbangan :

1. Kondisi foto thorax terakhir, Pneumonia menyempit, lbh baik daripada hasil foto sebelumnya.

2. Ada ruang isolasi di rumah, dan anggota keluarga menyetujui.

3. Kondisi hasil uji lab, semuanya sudah menunjukkan diagnosa yang baik.

4. Ruangan di RS gantian dengan pasien baru lainnya, nah No. 4 ini gambaran bagaimana kondisi penuhnya ruangan di RS rujukan covid. Jangan ditambah yaa..

5. Obat dari RS dikonsumsi rutin sesuai jadwal

6. Melakukan kontrol dan swab evaluasi tanggal 15/09/2020

Oke syarat terpenuhi semua. Alhamdulillah hari ke-9 saya pulang setelah Maghrib. Dijemput oleh Istri tercinta, saya pulang dan menjalankan isolasi mandiri di rumah. Tiap hari kondisi saya semakin sehat, selama isolasi mandiri di rumah, yang rutin menanyakan kondisi dan memberikan tips kesehatan adalah Bidan Desa PUSKESMAS, Beliau yang rajin menanyakan kondisi, menyarankan saya senam pernafasan dan caring di bawah sinar matahari pagi tiap hari. Dan memberikan resep minuman untuk meningkatkan imun dari bahan Jahe + Kunyit + Sereh dan Madu. Tiap hari kondisi saya semakin pulih dan sehat. Alhamdulillah.

Oiya teruntuk seluruh tenaga medis yang berada di garda terdepan, para dokter dan perawat, kalianlah pahlawan atas pandemi ini, saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga atas seluruh jerih payah, atas seluruh pengorbanan waktu, tenaga, pikiran hingga nyawa. Semoga Yang Maha Kuasa melindungi kalian dan keluarga kalian dari cepat menularnya & bahaya penyakit ini. Aamiin Yaa Mujiibassa’iliin..

Demikian cerita yang dapat saya bagikan, tetap semangat menghadapi Kondisi Pandemi ini, selalu happy dimanapun dan apapun kondisi kita, tetap pakai masker terutama masker medis yaa.. (saya sewaktu kena virus ini pake Scuba/ Sponge Mask, ternyata daya proteksinya lemah terhadap ukuran virus yang jauh lbh kecil daripada rongga kainnya), usahakan berada di ruangan dengan kondisi ventilasi baik, rajin cuci tangan dengan sabun min. 1 menit, bawa handsanitizer dan rajin gunakan, tidak berkumpul jika tidak benar-benar butuh, hindari keramaian karena tiap orang berpotensi menjadi OTG dan carrier, setelah keluar rumah usahakan cuci tangan dan kaki di luar, dan jangan bersalaman dengan anggota keluarga lainnya, langsung mandi dan ganti pakaian dari luar, tidur tidak kurang dari 7 jam per hari, dan yang terakhir selalu berdo’a kepada Tuhan YMK agar senantiasa dilindungi dari bahaya penyakit ini dan dampaknya.

Salam